Peduli Keselamatan Olahraga, Mahasiswa KKN Kelompok 58 Edukasi Penanganan Cedera bagi Anak dan Remaja SSB Tegalgondo
![]() |
| Peduli Keselamatan Olahraga, Mahasiswa KKN Kelompok 58 Edukasi Penanganan Cedera bagi Anak dan Remaja SSB Tegalgondo |
Malang –detik35.com - Kepedulian terhadap keselamatan olahraga sejak usia dini mendorong mahasiswa KKN Kelompok 58 KKN MAS menggelar edukasi penanganan awal cedera olahraga bagi anak-anak dan remaja Sekolah Sepak Bola (SSB) Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan edukasi yang berlangsung di Desa Tegalgondo tersebut dikemas secara interaktif dan praktis. Para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai jenis-jenis cedera olahraga, tetapi juga diajak memahami langkah pertolongan pertama yang tepat ketika terjadi cedera saat latihan maupun pertandingan.
Kegiatan semakin menarik karena melibatkan kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa Program Studi Fisioterapi dan Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR). Kolaborasi tersebut menghadirkan materi yang memadukan aspek kesehatan, anatomi tubuh, serta pengetahuan olahraga sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh para atlet muda.
Sepak bola merupakan olahraga dengan intensitas tinggi yang memiliki risiko cedera cukup beragam. Benturan fisik, gerakan mendadak, maupun aktivitas berlebihan dapat menyebabkan kram otot, memar, keseleo hingga cedera pada bagian tubuh lainnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 58 berupaya memberikan bekal pengetahuan dasar agar para peserta mampu bersikap tepat ketika menghadapi cedera dan tidak melakukan tindakan yang justru dapat memperburuk kondisi.
Salah satu kebiasaan yang turut diluruskan adalah anggapan bahwa setiap cedera otot harus segera dipijat atau diurut.
“Banyak yang masih beranggapan bahwa cedera otot harus segera diurut. Padahal, memijat atau mengurut cedera yang masih akut seperti keseleo justru dapat memperparah kerusakan jaringan dan memperlama masa pemulihan. Kami ingin menanamkan pola pikir berbasis ilmu olahraga sejak dini, agar kondisi fisik para atlet muda ini tetap terjaga dengan baik,” ungkap salah satu perwakilan pelaksana kegiatan.
Tidak berhenti pada penyampaian teori, mahasiswa juga memberikan simulasi langsung di pinggir lapangan. Peserta diperkenalkan pada prinsip RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) sebagai salah satu pendekatan pertolongan awal yang umum diajarkan untuk menangani cedera jaringan lunak.
Para peserta kemudian diajak mempraktikkan sejumlah teknik dasar, mulai dari membatasi pergerakan bagian tubuh yang cedera, memasang perban atau tape pada area yang membutuhkan dukungan, hingga memposisikan bagian tubuh yang cedera lebih tinggi untuk membantu mengurangi pembengkakan.
Interaksi langsung tersebut membuat suasana edukasi berlangsung lebih hidup. Anak-anak dan remaja SSB tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga mencoba secara langsung teknik yang diperagakan mahasiswa dengan pendampingan.
Pelatih Kepala SSB Tegalgondo mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pengetahuan mengenai penanganan cedera sangat penting bagi anak-anak yang aktif berlatih sepak bola.
“Ilmu seperti ini sangat berharga dan sangat dibutuhkan anak-anak kami. Sekarang mereka menjadi lebih siap, tidak panik, dan tahu apa yang harus dilakukan jika ada teman yang cedera saat latihan maupun bertanding. Pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk melindungi fisik mereka yang masih dalam masa pertumbuhan,” ujarnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam meningkatkan literasi kesehatan olahraga di lingkungan masyarakat. Edukasi keselamatan olahraga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan KKN, tetapi dapat menjadi pengetahuan yang terus diterapkan oleh peserta, pelatih, maupun lingkungan SSB dalam setiap aktivitas latihan dan pertandingan.
Melalui pendekatan edukatif dan praktik langsung, mahasiswa KKN Kelompok 58 berharap para atlet muda SSB Tegalgondo semakin memahami pentingnya keselamatan, mampu mengenali risiko cedera, serta mengetahui langkah awal yang tepat sebelum mendapatkan penanganan lebih lanjut dari tenaga kesehatan.
Penulis: Sultan Al Fariz
Editor: Redaksi
