Menkes Wanti-Wanti: Penyakit Saraf Diprediksi Menyamai Beban Stroke dan Kanker
![]() |
| Menkes Wanti-Wanti: Penyakit Saraf Diprediksi Menyamai Beban Stroke dan Kanker |
JAKARTA — detik35. Com - Indonesia diminta mulai bersiap menghadapi potensi lonjakan penyakit neurodegeneratif dalam beberapa tahun mendatang. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memprediksi beban penyakit saraf seperti Alzheimer, Parkinson, dan demensia dapat meningkat tajam seiring bertambahnya usia populasi Indonesia.
Budi menyampaikan peringatan tersebut saat membuka The 1st International King's - EMC Neuroscience Masterclass and Symposium 2026 di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Budi, perubahan demografi menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian serius. Populasi Indonesia yang semakin menua berpotensi diikuti meningkatnya jumlah masyarakat yang mengalami penyakit neurodegeneratif.
“Dalam 5 sampai 10 tahun lagi, mungkin nanti akan setara dengan stroke dan kanker beban penyakit yang ini (saraf). Lebih baik kita mempersiapkan dari sekarang,” ujar Budi.
Ia menilai Indonesia tidak boleh menunggu sampai kasus meningkat tajam baru membangun kapasitas layanan kesehatan. Persiapan perlu dilakukan sejak sekarang, terutama dalam hal deteksi dini, diagnosis, pengobatan, pengembangan teknologi, serta peningkatan kompetensi tenaga medis.
Budi mengakui penanganan penyakit neurodegeneratif masih menghadapi tantangan. Metode skrining dan diagnosis, termasuk pilihan terapi, masih terus berkembang sehingga diperlukan pemahaman terhadap perkembangan sains dan teknologi terbaru.
“Penyakit ini cara screening-nya, deteksinya, kemudian treatment-nya juga masih belum pasti,” katanya.
Diagnosis Masih Terlambat
Tantangan lain datang dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala penyakit neurodegeneratif. Gejala Parkinson, misalnya, masih kerap dianggap sebagai bagian wajar dari proses penuaan.
CEO EMC Healthcare Jusuf Halimi mengatakan anggapan tersebut dapat membuat pasien terlambat memperoleh diagnosis dan penanganan. Kondisi yang sudah kompleks ketika pasien datang ke fasilitas kesehatan pada akhirnya dapat membuat perawatan menjadi lebih sulit dan biaya meningkat.
Karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai gejala penyakit neurodegeneratif menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi peningkatan kasus.
Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan juga menjadi perhatian. EMC Healthcare telah mengirimkan tenaga medis untuk mengikuti pelatihan intensif di King's College, Dubai. Pada penyelenggaraan tahun ini, pelatihan juga diperluas dengan melibatkan dokter dari berbagai daerah di Indonesia di luar jaringan EMC Healthcare.
Melalui pertukaran pengetahuan dengan para pakar internasional, kemampuan tenaga medis Indonesia diharapkan semakin siap menghadapi penyakit neurodegeneratif.
Budi menegaskan, percepatan pemahaman tenaga kesehatan menjadi penting agar Indonesia tidak tertinggal dalam menghadapi perubahan pola penyakit.
“Yang penting bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman di Indonesia terhadap penyakit ini, agar setara dengan yang di luar negeri,” pungkasnya.
Peringatan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa tantangan kesehatan Indonesia ke depan bukan hanya penyakit menular maupun penyakit kronis yang selama ini menjadi perhatian utama. Menuanya populasi akan membawa tantangan baru berupa meningkatnya kebutuhan terhadap layanan neurologi, deteksi dini, perawatan jangka panjang, serta dukungan bagi pasien dan keluarganya.
Pemerintah dan masyarakat pun dituntut mempersiapkan diri sejak dini agar peningkatan usia harapan hidup tidak diikuti bertambahnya beban penyakit dan penurunan kualitas hidup masyarakat.(Red)
