Iran Serang Balik Pangkalan AS, Konflik Timur Tengah Kian Memanas dan Selat Hormuz Mencekam
![]() |
| Iran Serang Balik Pangkalan AS, Konflik Timur Tengah Kian Memanas dan Selat Hormuz Mencekam |
TIMUR TENGAH – detik35. Com - Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meluncurkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan udara Amerika Serikat (AS) pada Kamis (28/5/2026) waktu setempat.
Langkah tersebut dilakukan Teheran sebagai respons atas serangan udara terbaru militer AS yang disebut Iran sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya sempat dibahas.
Ketegangan ini bahkan mulai menyeret Kuwait, salah satu sekutu dekat Amerika Serikat di kawasan Teluk, dan memunculkan kekhawatiran global terhadap keamanan jalur perdagangan energi dunia, khususnya Selat Hormuz.
Dikutip dari NBC News, konflik meningkat hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa kesepakatan damai dengan Iran masih sangat jauh dari tercapai.
Trump menegaskan Amerika Serikat tidak akan terburu-buru mengambil keputusan meski tekanan ekonomi global dan politik domestik terus meningkat menjelang pemilu paruh waktu di AS.
Konflik semakin kompleks sejak Iran memblokade Selat Hormuz pada akhir Februari lalu sebagai bentuk protes terhadap serangan gabungan AS dan Israel. Penutupan jalur strategis tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah, gas alam, pupuk hingga kebutuhan pokok di berbagai negara akibat terganggunya rantai pasok global.
Dalam pernyataan kontroversialnya, Trump juga memperingatkan Oman agar tidak membantu Iran mengontrol Selat Hormuz.
“Oman harus bersikap sama seperti yang lain, atau kami terpaksa menghancurkan mereka. Mereka paham hal itu. Mereka akan baik-baik saja,” ujar Trump dalam rapat kabinet.
Menurut pejabat militer AS, bentrokan terbaru bermula ketika pasukan Amerika menembak jatuh empat drone tempur milik Iran. Selain itu, militer AS juga menghancurkan sebuah stasiun kendali darat di wilayah Iran yang dinilai mengancam keselamatan pasukan AS dan kapal-kapal dagang.
Serangan udara AS dilaporkan terjadi di sekitar Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada dekat Selat Hormuz. Media Iran menyebut serangan itu dipicu upaya kapal perang AS memasuki wilayah selat tanpa izin otoritas setempat.
Pentagon menegaskan aksi tersebut merupakan serangan defensif terbatas dan bukan awal operasi perang besar-besaran. Namun Iran langsung membalas melalui Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
“Pangkalan udara AS yang diidentifikasi sebagai sumber serangan telah dijadikan target,” demikian pernyataan resmi IRGC yang disiarkan media pemerintah Iran.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari Washington terkait pangkalan AS yang terkena serangan, militer Kuwait mengaku telah mendeteksi dan mencegat rudal serta drone asing di wilayah udaranya.
Suara ledakan yang sempat terdengar di Kuwait dipastikan berasal dari sistem interseptor pertahanan udara yang menghancurkan ancaman di udara.
Kuwait sendiri diketahui menjadi lokasi salah satu pangkalan udara strategis milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dan selama beberapa bulan terakhir kerap menjadi target kelompok bersenjata pro-Iran.
Pasca-serangan tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengutuk keras tindakan Amerika Serikat dan menegaskan Iran siap mempertahankan kedaulatan negaranya.
“Iran akan mengambil semua langkah yang diperlukan demi membela kedaulatan nasional dan integritas wilayahnya,” tegas Baghaei.
Di sisi lain, Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan satu negara menguasai Selat Hormuz secara sepihak.
“Selat itu akan terbuka untuk semua orang. Tidak ada yang akan mengontrolnya,” kata Trump.
Ketegangan terbaru ini langsung mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah global dilaporkan kembali melonjak sekitar 3 persen setelah sebelumnya sempat turun akibat harapan tercapainya kesepakatan damai.
Upaya mediasi yang dilakukan Pakistan dan Qatar pun kembali menemui jalan buntu akibat tajamnya perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran.
Sementara itu, pemerintahan Trump juga resmi menjatuhkan sanksi baru terhadap Persian Gulf Strait Authority, lembaga bentukan Iran yang memungut biaya tinggi terhadap kapal asing yang melintas di Selat Hormuz.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kebijakan Iran tersebut sebagai bentuk pemerasan perdagangan global akibat tekanan ekonomi yang semakin besar terhadap Teheran.
Namun Iran tetap bersikeras tidak akan melunak sebelum seluruh aset negara mereka yang dibekukan AS dicairkan tanpa syarat.
“Kami menuntut pencairan semua aset Iran yang dibekukan oleh Amerika dan itu adalah hak sah rakyat Iran,” ujar Wakil Kepala Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, Ali Bagheri.
Hingga kini, situasi di kawasan Timur Tengah masih sangat tegang dan dunia internasional terus memantau potensi meluasnya konflik yang dapat berdampak besar terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global.(Red)
