Indef Proyeksi Transaksi Kurban 2026 Capai Rp 26,89 Triliun, Jawa Dominasi Distribusi

Indef Proyeksi Transaksi Kurban 2026 Capai Rp 26,89 Triliun, Jawa Dominasi Distribusi


Jakarta – detik35. Com - (Indef) memproyeksikan nilai transaksi hewan kurban pada Iduladha 1447 Hijriah atau tahun 2026 mencapai Rp 26,89 triliun. Nilai tersebut berasal dari simulasi mikro transaksi hewan kurban di berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) Indef, mengatakan proyeksi tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi syariah dari pelaksanaan ibadah kurban setiap tahun.

“Proyeksi nilai kurban di 2026 valuasinya adalah Rp 26,89 triliun berdasarkan simulasi mikro transaksi,” ujar Nur Hidayah dalam diskusi daring di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Menurutnya, jumlah hewan kurban tahun ini diperkirakan mencapai 1,59 juta ekor, terdiri atas sekitar 493.000 sapi serta 1,09 juta kambing dan domba.

Dari jumlah tersebut, total distribusi daging kurban diperkirakan mencapai 99.290 ton. Volume itu dinilai mampu memenuhi kebutuhan protein hewani harian seluruh penduduk Indonesia selama sekitar 2,5 hari.

“Volume daging kurban yang mencapai 99.290 ton ini ekuivalen dengan pemenuhan kebutuhan protein hewani harian seluruh populasi Indonesia selama 2,5 hari,” jelasnya.

Namun demikian, Indef menyoroti masih tingginya ketimpangan distribusi ekonomi kurban antardaerah. Pulau Jawa disebut mendominasi distribusi ekonomi kurban nasional dengan nilai mencapai Rp 21,42 triliun atau sekitar 79,67 persen dari total nasional.

Sebaliknya, sejumlah wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Maluku masih mengalami distribusi yang sangat rendah.

“Papua hanya sekitar Rp 0,11 triliun atau 0,41 persen, sedangkan Maluku sekitar Rp 0,03 triliun atau 0,10 persen,” ungkap Nur.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan tingkat ketimpangan distribusi ekonomi kurban lebih tinggi dibanding struktur ekonomi nasional secara umum. Karena itu, Indef mendorong adanya kebijakan realokasi distribusi kurban dari wilayah surplus menuju daerah yang mengalami kekurangan pasokan.

Menurut Nur, langkah tersebut penting agar nilai sosial dan pemerataan manfaat ibadah kurban dapat dirasakan masyarakat secara lebih luas.

Selain itu, Indef juga mendorong inovasi pengolahan daging kurban menjadi produk olahan tahan lama seperti kornet dan rendang kaleng agar distribusi dapat menjangkau daerah terpencil tanpa khawatir daging cepat rusak.

“Kalau sudah diolah menjadi kornet atau rendang kaleng, distribusinya bisa lebih luas dan bertahan lebih lama,” pungkasnya.(Red)