Mengetuk Pintu Langit: Indonesia Bersiap Sambut Ramadan 1447 H dalam Kedamaian

Mengetuk Pintu Langit: Indonesia Bersiap Sambut Ramadan 1447 H dalam Kedamaian

JAKARTA – detik35.com - Hilal Ramadan 1447 Hijriah segera menyapa. Seluruh lapisan masyarakat di Indonesia kini tengah bersiap menyambut datangnya bulan suci yang diperkirakan akan dimulai pada Selasa, 17 Februari 2026. Suasana religius mulai kental terasa, menyelimuti hiruk-pikuk kota hingga ketenangan di pelosok desa, menandai dimulainya refleksi spiritual satu bulan penuh bagi umat Muslim.

Sidang Isbat dan Kepastian Astronomis

​Kementerian Agama RI dijadwalkan menggelar Sidang Isbat pada Senin petang (16/2) untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 H. Meskipun metode hisab dari berbagai organisasi kemasyarakatan Islam telah memberikan prediksi yang seragam, pemerintah tetap akan melakukan pemantauan hilal (rukyatul hilal) di ratusan titik dari Aceh hingga Papua guna memastikan keselarasan data astronomis dengan pengamatan lapangan.

​Menteri Agama dalam keterangan persnya mengimbau agar perbedaan metode tidak menjadi penghalang harmoni. "Ramadan adalah bulan pemersatu. Apapun hasil sidang isbat nanti, mari kita jadikan ini sebagai momentum untuk mempererat ukhuwah islamiyah dan persaudaraan kebangsaan," tuturnya.

Geliat Ekonomi dan Stabilitas Pangan

​Pemerintah bergerak cepat mengantisipasi lonjakan konsumsi rumah tangga yang rutin terjadi menjelang Ramadan. Satgas Pangan telah berkoordinasi dengan distributor utama untuk memastikan pasokan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan daging tetap stabil.

  • Pasar Murah: Di berbagai daerah, Pemerintah Daerah (Pemda) mulai menggelar operasi pasar murah guna menekan potensi inflasi.
  • Transportasi: Jalur logistik diperkuat untuk memastikan distribusi pangan ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) tidak terkendala menjelang masa mudik yang akan datang.

Modernitas dalam Tradisi

​Ada yang berbeda pada penyambutan Ramadan 1447 H kali ini. Selain tradisi fisik seperti Padusan di Jawa atau Meugang di Aceh, digitalisasi ibadah semakin matang. Penggunaan aplikasi pintar untuk jadwal imsakiyah, pembayaran zakat digital, hingga pendaftaran kajian rutin masjid kini menjadi standar baru di masyarakat urban.

​Masjid-masjid ikonik seperti Masjid Istiqlal di Jakarta dan Masjid Raya Al-Jabbar di Bandung telah menyiapkan protokol manajemen jamaah untuk mengantisipasi membeludaknya umat pada malam salat Tarawih pertama. Program "Ramadan Ramah Lingkungan" juga mulai dikampanyekan, mengajak jamaah untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat berbuka puasa di masjid.

Refleksi dan Harapan

​Bagi masyarakat, Ramadan 1447 H bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Di tengah dinamika global dan pemulihan ekonomi, bulan suci ini dipandang sebagai kesempatan untuk "jeda sejenak" dari keriuhan duniawi.

​"Kami berharap Ramadan tahun ini membawa ketenangan hati. Di tengah kesibukan kerja, momen sahur dan buka bersama keluarga adalah kemewahan yang selalu kami rindukan setiap tahunnya," ujar Aris (34), seorang karyawan swasta di Jakarta.

​Dengan persiapan yang matang dari sisi pemerintah maupun antusiasme tinggi dari masyarakat, Indonesia siap memasuki bulan penuh berkah ini dengan semangat gotong royong dan spiritualitas yang tinggi.(Red)