Kemarau Surutkan Waduk Karian, Kampung Somang yang Tenggelam Kembali Muncul Jadi Magnet Wisata
![]() |
| Kemarau Surutkan Waduk Karian, Kampung Somang yang Tenggelam Kembali Muncul Jadi Magnet Wisata |
LEBAK — detik35. Com - Kemarau panjang di Kabupaten Lebak, Banten, membuka kembali jejak sebuah kampung yang selama bertahun-tahun berada di bawah genangan Waduk Karian. Surutnya permukaan air hingga sekitar 4–5 meter membuat rumah, masjid, musala, jalan kampung, hingga hamparan sawah dan ladang di Kampung Somang, Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, kembali terlihat.
Fenomena tersebut sontak menarik perhatian masyarakat. Kawasan yang sebelumnya bukan destinasi wisata itu kini berubah menjadi lokasi wisata dadakan yang ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah.
Pantauan pada Sabtu (8/8/2026), pengunjung berdatangan sejak pagi. Mereka menggunakan perahu milik warga untuk menyusuri bagian waduk yang airnya mulai surut sekaligus melihat langsung sisa-sisa permukiman yang sebelumnya tertutup genangan.
Bagi sebagian pengunjung, perjalanan tersebut bukan sekadar rekreasi. Kemunculan kembali bangunan-bangunan kampung lama menghadirkan rasa penasaran sekaligus keharuan karena menjadi pengingat kehidupan masyarakat sebelum kawasan tersebut tergenang.
Salah seorang pengunjung asal Kecamatan Warunggunung, Erna (43), mengaku terkesan setelah melihat langsung permukiman yang kembali muncul ke permukaan.
Menurut Erna, keberadaan rumah, masjid, musala, serta bangunan lainnya membuat dirinya ikut prihatin. Meski menikmati perjalanan menggunakan perahu, pemandangan kampung yang muncul kembali justru meninggalkan kesan emosional.
Fenomena tersebut diketahui banyak warga setelah beredar luas melalui media sosial, termasuk TikTok. Informasi itu kemudian mendorong masyarakat dari luar wilayah Lebak datang untuk melihat kondisi Kampung Somang secara langsung.
Berubah Jadi Peluang Ekonomi
Di tengah kondisi kemarau yang membawa berbagai persoalan, seperti berkurangnya ketersediaan air dan ancaman terhadap pertanian, surutnya Waduk Karian justru membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Perahu yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas warga kini dimanfaatkan sebagai sarana transportasi bagi pengunjung. Warga pemilik perahu memperoleh tambahan penghasilan dengan mengantarkan wisatawan menyusuri kawasan kampung yang kembali terlihat.
Salah seorang warga setempat, Husen (42), mengaku meningkatnya jumlah pengunjung memberikan tambahan pemasukan bagi keluarganya.
Tarif jasa perahu dipatok sekitar Rp20.000 per orang untuk sekali perjalanan. Warga juga melayani rombongan dengan sistem borongan, tergantung jumlah penumpang dan kesepakatan.
Dengan sekitar 10 penumpang dalam satu perjalanan, pendapatan kotor dapat mencapai Rp200.000. Namun, pendapatan tersebut masih dikurangi biaya operasional, seperti bahan bakar dan kebutuhan perawatan perahu.
Bagi Husen, ramainya pengunjung menjadi berkah tersendiri karena pendapatan dari jasa perahu dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Berpotensi Jadi Destinasi Wisata
Kemunculan kembali Kampung Somang juga memunculkan gagasan agar kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis fenomena alam dan sejarah lokal.
Erna berharap kawasan itu tidak hanya menjadi tujuan wisata musiman ketika muka air waduk surut. Menurutnya, potensi wisata dapat dikembangkan apabila didukung akses jalan, fasilitas, keamanan, serta pengelolaan yang memadai.
Namun, peluang tersebut juga memiliki keterbatasan karena sangat bergantung pada kondisi muka air Waduk Karian. Ketika musim hujan tiba dan permukaan waduk kembali meningkat, jejak kampung yang kini menjadi daya tarik wisata diperkirakan kembali tertutup genangan.
Fenomena ini memperlihatkan sisi lain musim kemarau. Di satu sisi, menyusutnya sumber air dapat memicu persoalan bagi masyarakat dan sektor pertanian. Di sisi lain, surutnya Waduk Karian membuka kembali jejak sejarah Kampung Somang sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi warga.
Kemarau pun untuk sementara menghadirkan "berkah" di tengah keterbatasan. Rumah-rumah lama, jalan kampung, tempat ibadah, sawah dan ladang yang muncul dari balik genangan menjadi daya tarik bagi pengunjung, sementara perahu-perahu warga berubah menjadi sumber penghasilan baru.(Red)
