BANSOS NAIK KELAS! 220 KPM MADURA DIBIDIK JADI PETANI EKSPOR

Kemensos Ubah Penerima Bantuan Jadi Pelaku Ekonomi Mandiri, Cabe Jamu Organik Ditarget Tembus Pasar Eropa, Amerika, dan Australia


SUMENEP —  detik35. Com - Kementerian Sosial (Kemensos) mulai mendorong perubahan besar dalam pola penanganan kemiskinan. Penerima bantuan sosial tidak lagi hanya diarahkan sebagai penerima bantuan, tetapi didorong menjadi pelaku ekonomi mandiri yang mampu menembus pasar internasional.

Program tersebut mulai diterapkan melalui Kolaborasi Pemberdayaan Budidaya Cabe Jamu Organik di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Tahap awal program menyasar 220 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH dan Sembako yang tersebar di 16 desa pada enam kecamatan di Kabupaten Sumenep.

Mereka akan dibina menjadi petani cabe jamu organik yang produksinya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor ke Eropa, Amerika, dan Australia.

Staf Khusus Menteri Sosial bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, Ishaq Zubaedi Raqib, menegaskan bantuan sosial harus menjadi jaring pengaman sementara, sementara pemberdayaan ekonomi harus mampu menciptakan kemandirian dalam jangka panjang.

“Bantuan sosial dirancang sebagai jaring pengaman sementara, namun pemberdayaan ekonomi harus berdaya selamanya.”

Untuk memastikan hasil produksi terserap, Kemensos menggandeng PT Mega Inovasi Organik (PT MIO) sebagai mitra pembina sekaligus offtaker. Sementara Koperasi Dewa Dewi Ramadaya berperan sebagai titik pengumpulan komoditas.

Skema kemitraan tersebut juga memberikan kepastian pasar dan harga. Cabe jamu organik dari tingkat koperasi atau collecting point disepakati berada di kisaran Rp125.000 hingga Rp130.000 per kilogram.

Harga tersebut diproyeksikan meningkatkan pendapatan petani KPM, dengan kenaikan harga beli cabe jamu basah sekitar Rp25.000-Rp30.000 per kilogram.

DIBEKALI DARI HULU HINGGA HILIR

Kemensos tidak hanya memberikan bantuan bibit. Para petani juga mendapat pendampingan teknis agar proses budidaya hingga pascapanen memenuhi standar ekspor.

Sebanyak 11.000 bibit cabe jamu, 4.400 bibit lada, dan 11.000 bibit tajar disalurkan untuk mendukung program.

Selain itu, diberikan pula dua paket solar dryer, renovasi gudang penyimpanan, perlengkapan kerja bagi 220 petani, 17 tangga lipat, dua tandon air, serta berbagai peralatan pengolahan pascapanen.

Seluruh peserta tergabung dalam Kelompok Masyarakat (Pokmas) Jamu Maju Bersama.

Program ini menjadi contoh pendekatan baru pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan: bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menciptakan sumber pendapatan.

Kemensos bersama mitra swasta, koperasi, dan masyarakat membangun rantai usaha mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran.

Tenaga Ahli Menteri Sosial Ahmad Rifai menyebut langkah tersebut merupakan bagian dari implementasi hilirisasi.

Dengan hilirisasi, komoditas pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi diolah sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Program pemberdayaan petani cabe jamu di Madura ini pun diproyeksikan menjadi model percontohan nasional untuk mengubah penerima bansos menjadi petani mandiri yang mampu bersaing di pasar internasional.(Red)