Mendikdasmen: Pendidikan Harus Cetak Problem Solver, Bukan Sekadar Penghafal
![]() |
| Mendikdasmen: Pendidikan Harus Cetak Problem Solver, Bukan Sekadar Penghafal |
JAKARTA – detik35. Com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan bahwa sistem pendidikan Indonesia harus bertransformasi dari pola pembelajaran yang berorientasi pada hafalan menuju pengembangan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (problem solving). Menurutnya, kompetensi tersebut menjadi bekal utama bagi peserta didik dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks.
Pernyataan itu disampaikan Abdul Mu'ti saat menjadi pembicara utama dalam bedah buku Presiden Solusi: Problem Solving ala Prabowo Subianto yang digelar di Perpustakaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta, dalam rangka memperingati Hari Pustakawan Indonesia 2026.
Ia menekankan bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan menghafal materi pelajaran. Sekolah juga harus mampu membentuk karakter peserta didik yang kreatif, adaptif, serta mampu menganalisis dan menyelesaikan berbagai persoalan secara logis dan inovatif.
Untuk mendukung visi tersebut, Kemendikdasmen terus mendorong penerapan konsep deep learning atau pembelajaran mendalam di berbagai satuan pendidikan. Pendekatan ini diarahkan agar proses belajar lebih kontekstual, mendorong siswa memahami konsep secara menyeluruh, serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain pembelajaran di kelas, Abdul Mu'ti juga menyoroti pentingnya transformasi fungsi perpustakaan sekolah. Menurutnya, perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi harus berkembang menjadi pusat literasi dan ruang belajar yang aktif, inklusif, serta mampu memacu lahirnya gagasan dan pemikiran kritis dari para siswa.
Dalam kesempatan yang sama, bedah buku tersebut juga menghadirkan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari, Asisten Khusus Presiden Dirgayuza Setiawan, dan Agung Gunilan Saputra sebagai narasumber.
Muhammad Qodari menilai buku Presiden Solusi disusun dengan pendekatan komunikasi yang sesuai dengan perkembangan era digital. Menurutnya, penyajian yang ringkas, visual, dan mudah dipahami menjadi strategi efektif untuk menyampaikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat luas.
Melalui transformasi kurikulum, penguatan deep learning, dan optimalisasi peran perpustakaan, pemerintah berharap lahir generasi muda Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta mampu menjadi pemecah masalah di berbagai bidang kehidupan.(Red)
