Diperiksa Kemendagri Terkait Lagu Kontroversial, Bupati Purwakarta Akui Kesalahan dan Minta Maaf
![]() |
| Diperiksa Kemendagri Terkait Lagu Kontroversial, Bupati Purwakarta Akui Kesalahan dan Minta Maaf |
Jakarta - detik35. Com - Polemik lagu berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang diciptakan Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein memasuki babak baru. Bupati Purwakarta menjalani pemeriksaan dan klarifikasi selama sekitar delapan jam di Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jumat (3/7/2026), menyusul kontroversi yang timbul akibat lirik lagu tersebut yang dinilai menyinggung perempuan.
Kepala Pusat Penerangan Kemendagri, Benni Irwan, menyampaikan bahwa Saepul Bahri Binzein memenuhi undangan klarifikasi dan hadir di Kantor Inspektorat Jenderal Kemendagri sejak pukul 09.00 WIB. Proses pemeriksaan berlangsung hingga sekitar pukul 17.00 WIB dan dilakukan oleh tim khusus yang dibentuk Kemendagri, yang terdiri dari unsur pimpinan dan pengawas internal.
Dalam proses klarifikasi tersebut, tim pemeriksa mengajukan sekitar 60 pertanyaan yang berfokus pada latar belakang penciptaan lagu, tujuan pembuatan, pihak yang menjadi sasaran lirik, serta proses publikasi dan penyebaran lagu kepada masyarakat. Pemeriksaan dilakukan secara mendalam guna memperoleh gambaran utuh terkait polemik yang berkembang di ruang publik.
Usai menjalani pemeriksaan, Bupati Purwakarta mengakui telah melakukan kesalahan dan menyampaikan penyesalannya atas polemik yang muncul. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang merasa tersinggung akibat lagu tersebut serta berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa di masa mendatang.
Kemendagri selanjutnya akan menyusun laporan hasil klarifikasi yang disertai rekomendasi sanksi untuk disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Polemik lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" sebelumnya telah menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk anggota DPR dan tokoh masyarakat, karena dinilai mengandung muatan yang tidak menghormati perempuan.
Kasus ini menjadi perhatian publik sekaligus pengingat pentingnya pejabat publik menjaga etika, sensitivitas sosial, dan tanggung jawab dalam setiap bentuk ekspresi yang disampaikan kepada masyarakat.(Red)
