Warga Sukabumi Tukar Sampah Jadi Kebutuhan, Dulu Dibakar Kini Bernilai
![]() |
| Warga Sukabumi Tukar Sampah Jadi Kebutuhan, Dulu Dibakar Kini Bernilai |
Sukabumi - detik35.Com - Warga Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, kini mulai mengubah cara pandang terhadap sampah rumah tangga. Jika sebelumnya sampah dibakar, kini dikumpulkan dan ditukar dengan kebutuhan sehari-hari melalui program waste station.
Sejumlah warga tampak membawa karung berisi sampah yang telah dipilah, seperti plastik bekas minyak goreng, bungkus deterjen, hingga kemasan sabun. Sampah tersebut kemudian ditimbang untuk ditukar dengan barang kebutuhan rumah tangga.
Salah satu warga, Een Rohaeni (70), mengaku berhasil mengumpulkan 10,7 kilogram sampah selama dua bulan terakhir.
“Dapat 10,7 kilo. Sampahnya plastik, bekas sabun, sama plastik hitam,” ujar Een, Kamis (30/4/2026).
Dari hasil tersebut, Een tidak menerima uang tunai, melainkan kebutuhan seperti sabun dan perlengkapan kebersihan lainnya. Ia mengaku senang karena bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus mengeluarkan uang.
“Dapat sabun, macam-macam. Senang sekali, buat dipakai sehari-hari,” katanya.
Sebelum adanya program ini, Een menyebut sampah rumah tangga biasanya dibakar karena tidak ada pengelolaan lain.
“Dulu mah dibakar,” ucapnya.
Hal serupa disampaikan warga lainnya, Hayati (60). Ia mengaku mengumpulkan sampah selama satu bulan hingga mencapai lebih dari 11 kilogram.
“Ibu kumpulkan tiga karung, totalnya sebelas kilo lebih. Isinya plastik, kertas, kardus, dan lainnya,” kata Hayati.
Sementara itu, Kepala Desa Kebonmanggu, Rasnita Diharja, mengatakan kesadaran warga dalam mengelola sampah mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, sebelumnya pengelolaan sampah masih dilakukan secara sederhana, terutama di wilayah pedalaman yang masih membakar sampah atau menampungnya secara mandiri.
“Sekarang sudah terkoordinir. Masyarakat sudah sadar melalui RT, RW, dan kadus,” ujarnya.
Rasnita menyebut, dari sekitar 2.000 kepala keluarga atau 5.800 jiwa, hampir 50 persen warga kini mulai memilah dan mengumpulkan sampah, khususnya plastik.
“Sekarang hampir 1.000 keluarga sudah sadar menampung sampah plastik,” ungkapnya.
Ia menambahkan, program waste station menjadi titik balik dalam mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah, bahkan sebagian di antaranya mulai diolah menjadi bahan bakar alternatif pengganti batu bara.
“Dulu sampah itu seperti simalakama, sekarang sudah ada penanganannya,” tutupnya.(Red)
