Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Pendidikan Berbasis Karakter dan Budaya Sekolah
![]() |
| Mendikdasmen Abdul Mu’ti Tekankan Pendidikan Berbasis Karakter dan Budaya Sekolah |
Jawa Tengah –detik35.Com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh lagi dimaknai sebatas proses transfer ilmu di ruang kelas. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi fondasi utama dalam membangun karakter dan peradaban bangsa melalui nilai-nilai yang hidup dalam keseharian di lingkungan sekolah.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam dialog pendidikan yang digelar di Pekalongan, Jumat (3/4/2026), di hadapan ratusan kepala sekolah dan tenaga pendidik.
Menurutnya, salah satu kunci utama menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman adalah melalui penguatan hidden curriculum. Konsep ini menekankan pembiasaan nilai-nilai seperti disiplin, sopan santun, serta saling menghargai yang ditanamkan melalui keteladanan guru, bukan hanya melalui materi pelajaran formal.
“Pendidikan itu adalah proses membangun karakter dan peradaban bangsa. Guru tidak hanya menjadi agent of learning, tetapi juga agent of civilization,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus berlandaskan prinsip “memuliakan”, yakni guru memuliakan murid, murid menghormati guru, dan keduanya menjunjung tinggi ilmu sebagai landasan utama pendidikan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang menegaskan pentingnya budaya sekolah. Regulasi itu mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosial, hingga etika digital bagi seluruh warga sekolah.
Dalam forum bertema “Menata Fondasi Belajar”, Abdul Mu’ti juga mendorong penerapan deep learning melalui pendekatan pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful. Ia menilai, metode tersebut mampu meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus memperdalam pemahaman mereka terhadap materi yang dipelajari.
“Kita ingin siswa tidak sekadar menerima materi, tetapi benar-benar memahami dan mengalami proses belajar yang menyenangkan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa peran guru tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga membimbing siswa secara menyeluruh, baik dari aspek akademik, sosial, maupun emosional. Guru diharapkan hadir sebagai pendamping yang utuh bagi peserta didik.
Terkait kedisiplinan, Abdul Mu’ti menolak pendekatan berbasis kekerasan. Ia menegaskan bahwa disiplin harus dibangun melalui kesadaran, dialog, serta pembinaan yang konstruktif dan humanis.
“Disiplin bukan dibentuk dengan hukuman fisik, tetapi melalui pendekatan yang mendidik dan memanusiakan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam menyelesaikan berbagai persoalan siswa, guna menciptakan hubungan yang harmonis dan berkelanjutan.
Dialog pendidikan ini menjadi momentum refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menata ulang praktik pembelajaran di Indonesia. Pemerintah berharap, sekolah ke depan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang yang memuliakan, melindungi, serta membentuk karakter generasi bangsa secara berkelanjutan.(Red)
