Petilasan Prabu Tawang Alun, Jejak Sejarah Raja Blambangan yang Memilih Menepi demi Kedamaian

Petilasan Prabu Tawang Alun, Jejak Sejarah Raja Blambangan yang Memilih Menepi demi Kedamaian


BANYUWANGI –detik35.com -  Jejak sejarah Kerajaan Blambangan di Jawa Timur menyimpan kisah tentang Prabu Tawang Alun, seorang raja yang namanya hingga kini masih melekat dalam ingatan masyarakat. Selain dikenal sebagai penguasa Blambangan, perjalanan hidupnya juga diwarnai kisah konflik internal kerajaan, pengorbanan, serta pertapaan yang dipercaya berkaitan dengan sejumlah situs bersejarah di Banyuwangi.

Salah satu kisah yang berkembang di tengah masyarakat menceritakan bahwa Prabu Tawang Alun naik takhta menggantikan ayahandanya, Mas Kembar atau Pangeran Kedawung, pada 1659. Dalam sejumlah versi cerita sejarah lokal, wilayah kekuasaan Blambangan ketika itu mencakup kawasan yang kini dikenal sebagai Jember, Lumajang, Bondowoso, hingga Panarukan.

Namun, perjalanan kekuasaan Prabu Tawang Alun tidak terlepas dari dinamika politik dan perselisihan di lingkungan kerajaan. Persaingan dengan saudara sendiri disebut menjadi bagian dari kisah yang mengiringi perjalanan sang raja dalam mempertahankan stabilitas pemerintahan.

Dalam tradisi tutur masyarakat, Prabu Tawang Alun digambarkan sebagai sosok yang lebih mengutamakan keselamatan rakyat dan keutuhan kerajaan daripada mempertahankan kekuasaan melalui pertumpahan darah.

Kisah tersebut menyebutkan bahwa ia memilih meninggalkan pusat pemerintahan dan menjalani kehidupan di kawasan hutan Bayu, wilayah yang kini dikenal sebagai Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.

Tempat itu kemudian dikaitkan dengan perjalanan spiritual Prabu Tawang Alun setelah meninggalkan kehidupan istana. Hingga kini, kisah mengenai petilasan dan pertapaannya masih menjadi bagian dari tradisi sejarah lisan yang diwariskan masyarakat setempat.

Konflik Kerajaan dan Kisah Pengorbanan

Sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa hubungan Prabu Tawang Alun dengan adiknya, Mas Wilabrata atau Mas Wila, mengalami ketegangan dalam perjalanan politik Kerajaan Blambangan.

Meski demikian, kronologi peristiwa tersebut memiliki beberapa versi. Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Prabu Tawang Alun meninggalkan takhta pada 1686 untuk menghindari konflik berkepanjangan, sedangkan sumber lain mencatat pergantian kekuasaan dan dinamika pemerintahan Blambangan pada periode berbeda.

Kajian sejarah mengenai Blambangan juga mencatat bahwa Prabu Tawang Alun kembali memegang kekuasaan dan memerintah hingga 1691. Karena itu, kisah penyerahan takhta kepada Mas Wilabrata perlu dipahami sesuai konteks kronologi yang digunakan dalam masing-masing sumber sejarah.

Terlepas dari perbedaan versi tersebut, kisah Prabu Tawang Alun memperlihatkan kompleksitas kehidupan politik kerajaan di Jawa Timur pada abad ke-17, ketika persoalan suksesi, hubungan keluarga, dan perebutan pengaruh turut menentukan perjalanan pemerintahan.

Petilasan sebagai Warisan Sejarah dan Budaya

Keberadaan situs yang dipercaya berkaitan dengan pertapaan Prabu Tawang Alun memiliki nilai penting bagi masyarakat yang menjaga tradisi leluhur. Petilasan bukan hanya dipandang sebagai tempat yang menyimpan cerita masa lampau, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang tokoh sejarah dan memahami warisan budaya daerah.

Namun, identitas setiap situs, riwayat pertapaan, serta hubungan langsungnya dengan Prabu Tawang Alun tetap memerlukan penelusuran berdasarkan sumber sejarah, keterangan juru kunci, tradisi lisan, dan penelitian arkeologis.

Upaya pendokumentasian menjadi penting agar cerita yang berkembang di masyarakat tidak hilang ditelan zaman, sekaligus memberikan batas yang jelas antara fakta sejarah, tradisi tutur, dan kepercayaan setempat.

Kisah Prabu Tawang Alun pada akhirnya bukan sekadar cerita mengenai seorang raja dan takhtanya. Di dalamnya tersimpan refleksi tentang kekuasaan, persaudaraan, pengorbanan, serta upaya menjaga kedamaian di tengah konflik.

Bagi masyarakat Banyuwangi, jejak Prabu Tawang Alun merupakan bagian dari kekayaan sejarah Blambangan yang patut ditelusuri, dijaga, dan diwariskan kepada generasi mendatang.(Red)